Tuesday, August 30, 2011

Idul Fitri Ditengah Perbedaan

Seperti tahun 2007 sebelumnya Idul Fitri tahun ini pun diwarnai oleh perbedaan 2 organisasi Islam. sebenarnya tak masalah asalkan kita mau menyikapi perbedaan itu dengan bijaksana dan dewasa. Kebanyakan orang-orang beranggapan bahwa pemerintah itu plin plan!! tetapi untuk menentukan sebuah Hilall bukan hanya memandang kalender yang sudah setahun sebelumnya sudah dibuat. Saya tidak mau berkomentar tentang cara melihat Hilall karena semuanya itu sudah ada para ahli yang sudah berpengalaman dan ahli dibidangnya.
Harusnya kita harus lebih berintropeksi renungkanlah "apakah puasa kita selama sebulan ini sudah maksimal, shalat tarawih, tadarusan semuanya sudah maksimal??" kita tidak usah meributkan hal kapan lebaran jika kita belum intropeksi diri sendiri. Renungan bukan hanya dibaca tetapi dipahami dan dihayati semoga di lebaran mendatang kita benar-benar ditahap "kemenangan".
Ingat semboyan RI yang tersanding di burung garuda "Bhineka Tunggal Ika" walapun berbeda-beda kita tetap satu. Seperti lebaran tahun ini walaupun berbeda hari kita masih bisa saling memaafkan dan mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H Mohon Maaf Lahir Batin"


cucup markincup

Muka polos, lucu, pipi bulat serta bibir yang mungil menghiasi wajahnya. Tawa renyahnya tak henti-hentinya membuat orang selalu tersenyum. Sudah sekitar 2 bulan terakhir ini aku menjadi tempat bermainnya entah pagi ataupun sore. Celotehannya laksana orang yang sudah berumur, kata yang bikin orang tertawa adalah "sabar" selalu ia ucapkan jika ada orang tua (ibu ku) marah-marah, hihihi...geli sekali mendengarnya. Yang lebih mengherankan balita ini tak gagap tekhnologi, sedikit diajari dia langsung paham dan mempraktekannya. Tak heran kakak ku pernah berceloteh mungkin jika diajari ngehacker langsung bisa ^___^. Bagaimana jika dia sudah beranjak besar??apakah malu untuk memanggil "te'wi cucup mau pipis.." hihihi...kebalik kali yah. Ataukah ia akan lupa tantenya yang cantik ini selalu menemaninya ^o^.
cucup sayang nanti klo dah besar sekolah yang pinter, ganteng, jangan lupain te'wi yah!!
 luph yu.....♥♥♥


Thursday, August 11, 2011

Discovery dan Invention

  Tulisan ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah pengantar kebudayaan yang membahas tentang discovery dan invention. Berikut adalah penjabaran dari pengertian discovery dan invention beserta contohnya selamat membaca ^__^

  Discovery adalah penemuan-penemuan unsur baru dari suatu material atau benda yang ditemukan baik sengaja maupun tidak disengaja, baik sudah lebih dulu dikenal maupun sebelumnya sudah tercipta secara alami untuk kepentingan umat manusia. Sebagian ada yang memiliki fungsi tertentu tetapi tidak jarang hanya bersifat sebagai hiasan semata.

  Dalam hal ini, discovery juga dapat diartikan sebagai sebuah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat, benda, maupun gagasan yang diciptakan oleh seseorang (individu) ataupun beberapa orang.

  Sedangkan Invention merupakan proses tindak lanjut dari discovery, seperti sebuah inovasi atau hasil pengembangan ide dari discovery yang telah ditemukan sebelumnya. Selain itu, invention juga bisa berupa proses atau hasil produksi, penyempurnaan, atau pengembangan dari penemuan awal. Kemudian, invention juga bersifat continous dan terus menerus mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik.

  Sehingga dapat disimpulkan perbedaan antara discovery dan invention terletak pada penemuannya. Jika discovery merupakan hasil penemuan pertama sedangkan invention adalah pengembangan dari discovery.


Contoh dari discovery dan invention
Discovery : Batik
Invention : Mobil  Mercedes Benz C250 CGI avantgarde bercorak batik.

   Seperti kita telah ketahui batik adalah salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang sudah dikenal sejak dahulu (khususnya Jawa). Batik merupakan hasil perpaduan seni dan teknologi dari para leluhur yang bernilai tinggi. Pada zaman Paku Buwono masih menjabat sebagai Adipati Anom pada tahun 1912 istilah batik sudah ada. Pada waktu itu sudah terdapat beberapa motif batik diantaranya gringsing, kawung, parang rusuk dan lain-lain. Menurut K.R.T. Hardjonagoro, batik lahir dikalangan petani pada jaman kerajaan Mataram (Baskoro, 2006:30). Batik merupakan sebuah karya seni yang amat aplikatif, sehingga batik dapat dilekatkan pada selembar kain, laptop, handphone, dinding, bahkan kendaraan. Akan tetapi tidak ada estetika atau eleganitas yang hilang ketika batik dilekatkan pada benda-benda tersebut. Justru penempatan batik pada benda-benda yang biasa digunakan lebih terkesan khas, eksotis, berkelas, dan memiliki nilai budaya.

   Mercedes-Benz adalah sebuah mobil yang memiliki kelas tersendiri, sehingga tidak heran jika Mercedes-Benz Indonesia menjadikan salah satu produk terbaru mereka, yaitu Mercedes-Benz C 250 CGI, dihiasi  batik bercitarasa tinggi. A New Invention of Batik 'Mercedes Benz Tribute to Indonesia' adalah nama sebuah acara pada saat peluncuran mobil ini. Dengan hiasan motif batik karya perancang busana batik ternama Carmanita, mobil tersebut tidak hanya sekadar menawarkan eksotisme, tetapi juga merepresentasikan nilai budaya yang tinggi yaitu batik. Motif batik yang ditawarkan oleh Carmanita yang menghiasi tubuh mobil ini lain dari yang lain. Dengan motif kembang, dengan warna merah kecoklatan yang semakin ke biruan, mobil semakin terdegradasi warna terang bahkan cenderung keputihan menjadikan mobil Mercedes-Benz berkesan lain dari yang lain.



   Menurut Carmanita dia tidak menganut satu motif, corak ataupun gaya batik dari satu daerah tertentu saja. Perancangan mobil batik menghabiskan waktu 2- 3 minggu dalam menyelesaikan karyanya.

Sumber:
Banindro, Drs. Baskoro Suryo. Diktat Kuliah Sejarah Seni Rupa Indonesia. Ps. Diskomvis ISI Yogyakarta. 2006



Tuesday, August 9, 2011

Goresan Tangan Illustrasi

mencoba mengembangkan bakat saya yang pas-pasan untuk menghasilkan sebuah illustrasi yang maksimal. hasil belajar dan menimba ilmu di kelas illustrasi grafis semoga masih sedap dipandang mata ^_______^




Monday, August 8, 2011

Resensi Buku "Radikal Itu Menjual"

Judul Buku   : Radikal Itu Menjual (Budaya Perlawanan atau Budaya Pemasaran?)
Penulis         : Joseph Heath, Andrew Potter
Penerjemah : Ronny Agustinus dan Paramita Ayuningtyas Palar
Penerbit       : Antipasti, Jakarta, Cetakan Pertama, Mei 2009
Tebal            : 437 halaman

Buku yang ditulis oleh Joseph Heath dan Andrew Potter yang kemudian diterjemahkan oleh Ronny Agustinus dan Paramita Ayuningtyas Palar ini, menyorot budaya tanding yang selalu terjadi di setiap generasi. Budaya tanding adalah pola pandang dan perilaku yang menjadi alternatif terhadap pola pandang dan perilaku yang berlaku umum dalam masyarakat.

Uniknya dalam buku ini pertemuan kapitalisme dengan budaya tanding menghasilkan celah ekonomi baru, namun mampu menjadi pemasaran baru. Budaya tanding yang mulai memperlakukan semua kenyelenehan sebagai pembangkangan justru menghasilkan sesuatu yang tidak sekadar hanya memperbaiki tetapi membuka konsumerisme baru.

Repotnya hasrat untuk melawan arus, untuk menjadi berbeda, termasuk mengeraskan hati untuk menjalani hidup alternatif yang unik justru merupakan kekuatan utama pendorong kapitalisme dan konsumerime. Tentu agar mudah menyerap inti dari buku setebal 437 halaman ini, diperlukan sedikit waktu untuk membaca buku karya pemikir yang mempengaruhi penulis buku ini.

Ada beberapa orang beranggapan untuk menolak sepatu buatan Nike. Alasannya, mereka tidak ingin melukai para buruh yang dibayar murah untuk membuat sepatu itu. Masih banyak orang yang meyakini bahwa menantang arus itu keren, membebaskan diri dari trend itu hebat. Seperti pada Bab Pemberontakan Ekstrem mengatakan bahwa makan sayuran organik itu sehat karena mengandung makna perlawanan terhadap fast food, lebih baik berjalan kaki dari pada ikut fitnes maupun memuja slogan Do It Your Self ("perbaiki daripada beli”). Hasrat untuk melawan arus, menjadi beda, dan menjalani gaya hidup alternatif semacam itu justru mendorong konsumerisme itu sendiri.

Dengan kekritisan yang luar biasa dan analisis yang kuat, kedua penulis ini menunjukkan bahwa banyak penentang konsumerisme justru menjadi kekuatan-kekuatan yang menggerakkan konsumerisme. Dalam pandangan mereka, budaya tanding hanyalah mitos dan gagasan palsu. Sikap anti konsumerisme, budaya tanding justru melahirkan pasar yang sangat besar akan produk-produk dan literatur anti konsumerisme itu. Kekeliruan lain ide budaya tanding yang ditunjukkan oleh buku ini, para pemberontak itu menuding bahwa konsumerisme melahirkan keseragaman. Padahal, kebalikannya, konsumerisme sebenarnya lebih didorong oleh hasrat untuk menjadi beda. Seperti pada Bab 6 Seragam dan Keseragaman “ternyata efek buruk dari dihapuskannya bukan karena terletak pada berkurangnya disiplin, melainkan pada makin merajalelanya konsumerisme” hal 206. Sehingga budaya tanding justru menegaskan kesadaran individu akan pentingnya berbeda. Dengan kata lain, gerakan antikonsumerisme pada akhirnya justru mendorong apa yang disebut sebagai konsumerisme (orang berlomba-lomba membeli sesuatu) untuk menjadi yang paling keren, paling beda. 

Friday, August 5, 2011

sebuah awalan dari sebuah proses



Entah kenapa saya memulai tulisan-tulisan singkat ini. Tiba-tiba hasrat ingin menulis datang dengan mengelora. Berkibar-kibar laksana bedera yang sudah naik di ujung tiang dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi. Mungkin saya harus memberikan ucapan terimakasih terhadap buku-buku yang telah memberikan sebuah inspirasi bagi penulis pemula yang dengan berusaha menyusun kata-kata, kalimat-kalimat sehingga menjadi runtutan panjang sebuah paragraf. Semoga dapat memberikan makna (cie…..).

Kadang saya berfikir sebenarnya kegiatan tulis menulis sudah dimulai ketika saya duduk dibangku sekolah dasar dari tugas-tugas yang dibuat oleh guru dengan menceritaka aktifitas-aktifitas/ pengalaman-pengalaman selama liburan. Dan lucunya saya tidak pernah menulisnya secara nyata tapi dengan khayalan-khayalan saya sendiri (semoga guru saya mau memaafkan). Mulai dari pergi ke sawah, melihat pemandangan, sawah yang mulai menguning dan entah kenapa jika disuruh mengarang selalu menggunakan tema persawahan?? mungkin karena pada masa itu tidak dikenal dengan istilah mall (hah??...saya hidup disebuah desa yang akan mulai bergerak maju, tapi I love my hometown).

Menulis diary pun merupakan kegiatan awal menulis saya. Sampai sekarang kadang-kadang masih saya lakukan tapi bukan pada kumpulan kertas-kertas warna warni tetapi pada sebuah benda elektronik tipis yang dapat dibawa kemana-mana ya…my kentop (sesuai dengan kemajuan jaman tentunya). Tetapi kegiatan sekarang ini sekarang tidak untuk menulis diary atau pengalaman semasa libur dengan tema persawahan, saya mencoba untuk mencoba proses yang lebih meningkat ya… walaupun masih membutuhkan tambalan disana sini. Semoga dengan kehadiran tulisan saya ini dapat memberikan sebuah pencerahan (sepertinya saya mulai menulis yang agak berlebihan) atau sebuah kegiatan untuk mengisi waktu luang dengan membaca. Selamat menikmati…